Hanya manusia biasa yang tak bisa hidup tanpa oksigen.

Senin, 26 Maret 2018

Laporan Pendahuluan Kebutuhan Rasa Aman Dan Nyaman

Laporan Pendahuluan Kebutuhan Rasa Aman Dan Nyaman, antonicxz

I. Konsep Kebutuhan Aman dan Nyaman
1.1 Definisi Aman dan Nyaman
Keamanan adalah keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis atau bisa juga keadaan aman dan tentram.


Perubahan kenyamanan adalah keadaan dimana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dan berespons terhadap suatu rangsangan yang berbahaya.

1.1 Fisiologi Aman dan Nyaman

1.1.1 Aman
Kebutuhan fisiologis yang terdiri dari kebutuhan terhadap oksigen, kelembaban yang optimum, nutrisi, dan suhu yang optimum akan mempengauhi kemampuan seseorang. 

1.1.1.1 Oksigen 
Bahaya umum yang ditemukan dirumah adalah sistem pemanasan yang tidak berfungsi dengan baik dan pembakaran yang tidak mempunyai sistem pembuangan akan menyebabkan penumpukan karbondioksida. 

1.1.1.2 Kelembaban 
Kelembaban akan mempengaruhi kesehatan dan keamanan klien, jika kelembaban relatifnya tinggi maka kelembaban kulit akan terevaporasi dengan lambat. 

1.1.1.3 Nutrisi 
Makanan yang tidak disimpan atau disiapkan dengan tepat atau benda yang dapat menyebabkan kondisi kondisi yang tidak bersih akan meningkatkan resiko infeksi dan keracunan makanan. 

1.1.2 Nyaman 

1.1.2.1 Nyeri 
Nyeri adalah kondisi suatu mekanisme prolektif tubuh ayng timbul bilamana jaringan mengalami kerusakan dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan tersebut. 

a. Nyeri Akut 
Nyeri akut adalah suatu keadaan dimana seseorang melaporkan adanya ketidaknyamanan yang hebat. Awitan nyeri akut biasanya mendadak, durasinya singkat kurang dari 6 bulan.

b. Nyeri Kronik 
Nyeri kronik adalah keadaan dimana seorang individu mengalami nyeri yang berlangsung terus menerus, akibat kausa keganasan dan non keganasan atau intermiten selama 6 bulan atau lebih.

c. Mual 
Mual adalah keadaan dimana individu mengalami sesuatu ketidaknyamanan, sensasi seperti gelombang dibelakang tenggorokan epigastrium, atau seluruh abdomen yang mungkin atau mungkin tidak menimbulkan muntah. 

1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Keamanan dan Kenyamanan 

1.2.1 Emosi
Emosi Kecemasan, depresi, dan marah akan mudah terjadi dan mempengaruhi keamanan serta kenyamanan seseorang

1.2.2 Status mobilisasi
Keterbatasan aktivitas, paralisis, kelemahan otot, dan kesadaran menurun memudahkan terjadinya resiko injury 

1.2.3 Gangguan persepsi sensori
Mempengaruhi adaptasi terhadap rangsangan yang berbahayaseperti gangguan penciuman dan penglihatan.

1.2.4 Keadaan Imunitas
Gangguan ini akan menimbulkan daya tahan tubuh kurang sehingga mudah terserang penyakit.

1.2.5 Tingkat kesadaran
Pada pasien koma, respon akan enurun terhadap rangsangan, paralisis, disorientasi, dan kurang tidur.

1.2.6 Informasi dan Komunikasi
Gangguan komunikasi seperti aphasia atau tidak dapat membaca dapat menimbulkan kecelakaan. 

1.2.7 Gangguan tingkat pengetahuan
Kesadaran akan terjadi gangguan keselamatan dan keamanan dapat diprediksi sebelumnya. 

1.2.8 Penggunaan antibiotic yang tidak normal
Antibiotik dapat menimbulkan resisten dan anafilaktik syok. 

1.2.9 Status nutrisi
Keadaan kurang nutrisi dapat menimbulkan kelemahan dan mudah menimbulkan penyakit, demikian sebaliknya dapat beresiko terhadap penyakit tertentu. 

1.2.10 Usia
Pembedaan perkembangan yang ditemukan diantara kelompok usia anak-anak dan lansia mempengaruhi reaksi terhadap nyeri.

1.2.11 Jenis kelamin
Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam merespon nyeri dan tingkat kenyamanannya. 

1.2.12 Kebudayaan
Keyakinan dan nilai-nilai kebudayaan mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri dan tingkat kenyaman yang mereka punyai 

II. Rencana Asuhan Klien Dengan Gangguan Kebutuhan Aktifitas
2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat Keperawatan
 Pembedahan
2.1.1.2 Prosedur diagnostic infasif
2.1.1.3 Trauma (fraktur, luka bakar)
2.1.1.4 Lamanya penekanan pada bagian tubuh karena 
Imobilitas
2.1.1.5 Penyakit kronis ( kanker )
2.1.1.6 Gangguan akut ditandai oleh sumbatan pada aliran 
darah atau embolisme paru

2.1.2 Pemeriksaan Fisik: Data Fokus
2.1.2.1 Keamanan
Memastikan lingkungan yang aman, perawat perlu memahami hal-hal yang memberi kontribusi keadaan rumah, komunitas, atau lingkungan pelayanan kesehatan dan kemudian mengkaji berbagai ancaman terhadap keamanan klien dan lingkungan
a. Komunitas
Ancaman keamanan dalam komunitas dipengaruhi oleh terhadap perkembangan, gaya hidup, status mobilisasi, perubahan sensorik, dan kesadaran klien terhadap keamanan.
b. Lembaga pelayanan kesehatan
Jenis dasar resiko terhadap keamanan klien di dalam lingkungan pelayanan kesehatan adalah terjadi kecelakaan yang disebabkan klien, kecelakaan yang disebabkan prosedur, dan kecelakaan yang menyebabkan penggunaan alat.

2.1.2.2 Kenyamanan 
Nyeri merupakan perasaan yang tidak menyenangkan yang bersifat subyektif dan hanya yang menerimanya yang dapat menjelaskannya.
Pengkajian nyeri akurat penting untuk upaya penatalaksanaan nyeri yang afektif. Karena nyeri merupakan pengalaman yang subjektif dan dirasakan secara berbeda pada masing-masing individu, maka perawat perlu mengkaji semua factor yang mempengaruhi nyeri, seperti factor fisiologis, psikologis, perilaku, emosional, dan sosiokultural. Pengkajian nyeri terdiri atas dua komponen utama, yakni (a) riwayat nyeri untuk mendapatkan data dari klien dan (b) observasi langsung pada respon perilaku dan fisiologis klien. Tujuan pengkajian adalah untuk mendapatkan pemahaman objektif terhadap pengalaman subjek. Pengkajian dapat dilakukan dengan cara PQRST :
a. P (pemicu) yaitu faktor yang mempengaruhi gawat atau ringannya nyeri.
b. Q (quality) dari nyeri, apakah rasa tajam, tumpul atau tersayat.
c. R (region) yaitu daerah perjalanan nyeri.
d. S (skala) adalah keparahan atau intensits nyeri.
e. T (time) adalah lama/waktu serangan atau frekuensi nyeri.
Skala nyeri menurut Hayward

Skala nyeri menurut McGill
Skala Keterangan
1 Tidak nyeri
2 Nyeri sedang
3 Nyeri berat
4 Nyeri sangat berat
5 Nyeri hebat

2.1.3 Pemeriksaan Penunjang
2.1.3.1 Radiologi
2.1.3.2 Laboratorium
2.1.3.3 EEG
2.1.3.4 USG
2.1.3.5 ECG
2.1.3.6 Rontgen

2.2 Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul 

Diagnosa 1: Nyeri akut 

2.2.1 Definisi
Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang actual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah (internasional association for the study of fain), awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dengan durasinya kurang dari enam bulan.

2.2.2 Batasan Karakteristik
2.2.2.1 Mengungkapkan secara verbal adanya nyeri
2.2.2.2 Posisi Menghindari Nyeri
2.2.2.3 perilaku distraksi
2.2.2.4 perilaku menjaga atau sikap melindungi
2.2.2.5 perubahan selera makan
2.2.2.6 berpokus pada diri sendiri
2.2.2.7 gangguan tidur
2.2.2.8 wajah topeng (nyeri) 
2.2.2.9 Fokus menyempit

2.2.3 Faktor Yang Berhubungan
2.2.3.1 Agen-agen penyebab cedera

Diagnosa 2: Nyeri Kronis

2.2.1 Defenisi
Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang actual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah (internasional association for the study of fain), awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dengan durasinya lebih dari enam bulan.

2.2.2 Batasan Karakteristik
2.2.2.1 Keletihan 
2.2.2.2 Takut kembali cidera
2.2.2.3 perubahan pola tidur
2.2.2.4 Prilaku protektif yang dapat diamanati

2.2.3 Faktor Yang Berhubungan
2.2.3.1 Ketunadayaan fisik atau psikososial kronis (misal: 
kangker, cidera neurologis dan arthritis

2.3 Perencanaan
Diagnosa 1:
2.3.1 Tujuan dan Kriteria Hasil (outcomes criteria): 
2.3.1.1 Memperlihatkan pengendalian nyeri yang dibuktikan 
oleh indokator sebagai berikut:
a. Melaporkan nyeri dapat dikendalikan
b. Menggunakan tindakan pencegahan
c. Mengenali awitan nyeri
2.3.2 Intervensi keperawatan dan Rasional: 
2.3.2.1 Manajement nyeri
Rasional: Mengajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi ( relaksasi, terapi music, distraksi, terapi bermain, terapi aktifitas, kompres hangat atau dingin dan masase) bersama penggunaan tindakan peredaan nyeri lainnya 

Diagnosa 2:
2.3.1 Tujuan dan Kriteria Hasil (outcomes criteria): 
2.3.1.1 Memperlihatkan tingkatan nyeri yang dibuktikan 
oleh indokator sebagai berikut:
a. Ekspresi pada wajah 
b. Gelisah atau tidak tenang 
c. Ketegangan otot
d. Episode nyeri yang lama 
e. Kehilangan nafsu makan 

2.3.2 Intervensi keperawatan dan Rasional:
2.3.2.1 Pemberian analgesik
Rasional: Memfasilitasi pengendalian pemberian dan pengaturan analgesic oleh pasien

III. Daftar Pustaka
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosa Keperawatan : Diagnosa NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Edisi 9. EGC. Jakarta.
2004. Ganong. 2003. Fisiologi Kedokteran. EGC: Jakarta 
Nanda International (2009). Diagnosis Keperawatan: definisi & Klasifikasi. 2009-2011. Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta 
Price, Sylvia A. 2006. Patofisiologi Volume I dan II. EGC: Jakart
Tarwoto & Wartonah. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan. Edisi 4. Salemba Medika : Jakarta 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar